Waktu itu semester 2. Sesuai aturan universitas tempatku belajar, di semester 2 kami masuk ke kelas Interdept. Semacam kelas untuk perkenalan sebelum masuk Departemen di tahun kedua.
Hari itu, aku masuk kelas, mengamati berbagai bentuk anak yang sudah hadir di kelas, setengah jam sebelum kelas dimulai. Masih sepi. Jelas. Diantara semua anak di kelas, ada satu orang yang menarik perhatianku.
Laki-laki. Berkacamat, mengenakan jaket hoodie, duduk di bangku paling depan -di pojokan. Matanya tidak lepas dari layar handphone. Dia persis seperti tokoh-tokoh "kutu buku"/nerd di komik atau pun film-film yang sering kutonton. Seperti relief 2D yang muncul di dunia nyata. Aku ingin menyapanya, tapi kelihatannya dia tertutup dan sulit didekati. Jadi ya sudah, aku pun duduk di bangku paling depan, tapi ujung yang berlawanan dengannya.
Kelas mulai penuh, dosen pun masuk dan pelajaran dimulai. Sebelum memasuki, dosen kami ini, dia bertanya, "Di kelas ini yang kemarin dapat IP 4, siapa saja?"
Sontak anak-anak kelas ribut menyerukan dua nama. Salah satunya terdengar seperti nama perempuan, tapi aku tidak bisa menemukan sosok si perempuan itu. Ada satu lagi nama disebut, lebih riuh dibandingkan nama si perempuan. Tapi aku tau kemana jari anak-anak itu menunjuk. Ke sosok laki-laki 2D tadi. Ah, maksudku si kacamata tokoh komik.
Dia mengangkat kepalanya, sedikit menoleh ke belakang dan tersenyum ala kadarnya. Seperti terlihat canggung atau tidak biasa di elu-elukan publik? Entahlah. Tapi satu hal yang pasti, aku tau namanya. Kawi.
Setelah kuliah berakhir, aku memutuskan untuk datang menemuinya.
Dia masih membereskan catatan kuliahnya, dan aku langsung bersimpuh di depan mejanya.
"Hei, namamu Kawi-kan? Semester kemarin dapat IP 4?"
"Iya."
Nada suaranya terdengar lebih ramah, walau terdengar berat.
"Aku boleh minta ajarin Fisika? Aku agak lemah disana, hehe.."
"Iya boleh, nanti hubungi aja."
"Oke, makasih ya!"
Aku tersenyum dan dia mengangguk pelan.
Kita keluar kelas lalu berpisah di Node karena asrama putra dan putri berlawanan arah.
Itu adalah pertemuan pertamaku dengannya.
Selanjutnya, dia menjadi satu dari beberapa nama yang berhasil kuingat pada awal pertemuan. Ingatanku buruk -seburuk mengingat nama orang yang baru kukenal.
Tapi, dia sudah menarik perhatianku sejak awal.
Hari itu, aku masuk kelas, mengamati berbagai bentuk anak yang sudah hadir di kelas, setengah jam sebelum kelas dimulai. Masih sepi. Jelas. Diantara semua anak di kelas, ada satu orang yang menarik perhatianku.
Laki-laki. Berkacamat, mengenakan jaket hoodie, duduk di bangku paling depan -di pojokan. Matanya tidak lepas dari layar handphone. Dia persis seperti tokoh-tokoh "kutu buku"/nerd di komik atau pun film-film yang sering kutonton. Seperti relief 2D yang muncul di dunia nyata. Aku ingin menyapanya, tapi kelihatannya dia tertutup dan sulit didekati. Jadi ya sudah, aku pun duduk di bangku paling depan, tapi ujung yang berlawanan dengannya.
Kelas mulai penuh, dosen pun masuk dan pelajaran dimulai. Sebelum memasuki, dosen kami ini, dia bertanya, "Di kelas ini yang kemarin dapat IP 4, siapa saja?"
Sontak anak-anak kelas ribut menyerukan dua nama. Salah satunya terdengar seperti nama perempuan, tapi aku tidak bisa menemukan sosok si perempuan itu. Ada satu lagi nama disebut, lebih riuh dibandingkan nama si perempuan. Tapi aku tau kemana jari anak-anak itu menunjuk. Ke sosok laki-laki 2D tadi. Ah, maksudku si kacamata tokoh komik.
Dia mengangkat kepalanya, sedikit menoleh ke belakang dan tersenyum ala kadarnya. Seperti terlihat canggung atau tidak biasa di elu-elukan publik? Entahlah. Tapi satu hal yang pasti, aku tau namanya. Kawi.
Setelah kuliah berakhir, aku memutuskan untuk datang menemuinya.
Dia masih membereskan catatan kuliahnya, dan aku langsung bersimpuh di depan mejanya.
"Hei, namamu Kawi-kan? Semester kemarin dapat IP 4?"
"Iya."
Nada suaranya terdengar lebih ramah, walau terdengar berat.
"Aku boleh minta ajarin Fisika? Aku agak lemah disana, hehe.."
"Iya boleh, nanti hubungi aja."
"Oke, makasih ya!"
Aku tersenyum dan dia mengangguk pelan.
Kita keluar kelas lalu berpisah di Node karena asrama putra dan putri berlawanan arah.
Itu adalah pertemuan pertamaku dengannya.
Selanjutnya, dia menjadi satu dari beberapa nama yang berhasil kuingat pada awal pertemuan. Ingatanku buruk -seburuk mengingat nama orang yang baru kukenal.
Tapi, dia sudah menarik perhatianku sejak awal.

Komentar
Posting Komentar