Judul postnya lebay ya. Hehe..
Ya sesuai dengan konflik yang kualami dengan Kawi. Sangat sinetronisme dan berlarut-larut. Apa yang sebenarnya terjadi?
Oke, ini awalnya.
Disemester 5, terutangkap bahwa aku menyukai Kawi. Kawi tahu itu. Makanya dia mulai menghindar dariku dengan (sangat) ekstrem.
Tentunya info ini kuperoleh dengan meminta seorang teman yang kupercaya. Aku yakin 100% Kawi akan menceritakan semuanya -sejujurnya ke temanku yang satu ini. Ya karena Kawi suka dengan temanku ini.
Klasik? Yap. Segitiga api.
Iya, aku memang suka dengan Kawi. Aku punya alasannya. Ini bukan semacam rasa suka "tanpa alasan" yang bullshit. Semua rasa suka ada alasannya. Terlepas apa pun itu alasannya, ya berita itu memang benar. Aku hanya tidak menyangka Kawi akan menghindariku dengan ekstrem.
Kita satu kelas. Satu kepanitiaan acara besar di departemen. Satu divisi.
Ketika Kawi tahu aku suka dia, dia memang menghindariku habis-habisan. Dia cuek, tidak ramah lagi, dingin banget. Totally different. IP-ku memang tidak di atas 3,5 . Tapi aku tidak terlalu bodoh buat menyadari kalau dia menghindariku. Aku tidak senaif itu.
Tapi aku memilih diam dan membiarkan dia berlalu sesukanya. Walau "diam"ku pasti tidak bertahan lama. Tapi selama kepanitiaan berlangsung, aku memilih untuk tidak menyinggung hal ini. Hubunganku dan dia sudah cukup buruk, jika aku membahas hal itu sekarang dengannya, pasti itu akan memengaruhi kinerja divisi.
Kenapa aku bisa sangat yakin?
Karena dia -bukan orang proffesional yang bisa bersikap "biasa" ketika sedang bertugas.
Ya sesuai dengan konflik yang kualami dengan Kawi. Sangat sinetronisme dan berlarut-larut. Apa yang sebenarnya terjadi?
Oke, ini awalnya.
Disemester 5, terutangkap bahwa aku menyukai Kawi. Kawi tahu itu. Makanya dia mulai menghindar dariku dengan (sangat) ekstrem.
Tentunya info ini kuperoleh dengan meminta seorang teman yang kupercaya. Aku yakin 100% Kawi akan menceritakan semuanya -sejujurnya ke temanku yang satu ini. Ya karena Kawi suka dengan temanku ini.
Klasik? Yap. Segitiga api.
Iya, aku memang suka dengan Kawi. Aku punya alasannya. Ini bukan semacam rasa suka "tanpa alasan" yang bullshit. Semua rasa suka ada alasannya. Terlepas apa pun itu alasannya, ya berita itu memang benar. Aku hanya tidak menyangka Kawi akan menghindariku dengan ekstrem.
Kita satu kelas. Satu kepanitiaan acara besar di departemen. Satu divisi.
Ketika Kawi tahu aku suka dia, dia memang menghindariku habis-habisan. Dia cuek, tidak ramah lagi, dingin banget. Totally different. IP-ku memang tidak di atas 3,5 . Tapi aku tidak terlalu bodoh buat menyadari kalau dia menghindariku. Aku tidak senaif itu.
Tapi aku memilih diam dan membiarkan dia berlalu sesukanya. Walau "diam"ku pasti tidak bertahan lama. Tapi selama kepanitiaan berlangsung, aku memilih untuk tidak menyinggung hal ini. Hubunganku dan dia sudah cukup buruk, jika aku membahas hal itu sekarang dengannya, pasti itu akan memengaruhi kinerja divisi.
Kenapa aku bisa sangat yakin?
Karena dia -bukan orang proffesional yang bisa bersikap "biasa" ketika sedang bertugas.
Komentar
Posting Komentar