Pasca kepanitiaan yang melibatkan sedivisi dengan Kawi, aku kira semua akan kembali normal seperti biasa. Ternyata, sebaliknya. Makin buruk.
Suatu ketika, setelah pulang rapat di malam hari, aku berpapasan dengan Kawi di jalan. Aku menyapanya, tapi dia hanya mengangguk. Di lain hari ketika hampir berpapasan dengan Kawi, dia langsung mengeluarkan Hp dari kantong celananya, menunduk dan menatap layar ketika berpapasan denganku. Gemas dengan tingkahnya, aku panggil saja, "Kawi!" Sapaku, sambil melemparkan senyum. Dia hanya membalas dengan mengedikkan alisnya. What's that supposed to mean??? -_-
Hingga di suatu sore, saat itu anak-anak di kelas sedang acara di depan sekret himpro. Termasuk Kawi ada disana. Lelah diperlakukan seperti itu dengan Kawi, akhirnya aku memberanikan diri langsung bertanya padanya.
"Kawi, kenapa kamu menghindar dari aku?"
Awalnya dia mengelak. Bilang kalau dia memang seperti itu kesemua orang. Aku tau itu bohong. Dia baik ke orang lain, dia ramah ke orang lain. Ketika aku sedang bersama dengan temanku berjalan, kami berpapasan lagi. Temanku yang memanggil Kawi saat itu, respon Kawi lebih ceria -tidak sekedar mengedikkan alis.
Setelah percakapan tidak berarti -iya, gak berarti! Soalnya setiap kuajak ngobrol, dia memecah fokus dengan menyapa orang-orang yang lewat, seperti menghindari percakapan denganku. Setelah susah payah mengembalikan ke fokus topik, kesimpulan yang bisa kuambil, dia risih karena aku suka dengannya.
Padahal sejak aku tahu dia menjauh dariku, hari itu, aku sudah memutuskan untuk tidak suka dengannya. Tapi memang tidak ada proses yang instan. Aku mati-matian mengurangi rasa suka itu. Memang berhasil. Berkurang kok. Hingga yang tersisa cuma rasa ingin dihargai dan dianggap sebagai teman -seperti dulu.
Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Malah makin buruk. Malah sampai akhirnya ke percakapan seperti ini. "Dia risih karena aku menyukainya". Padahal sudah sejak lama, aku memutuskan untuk berhenti.
Suatu ketika, setelah pulang rapat di malam hari, aku berpapasan dengan Kawi di jalan. Aku menyapanya, tapi dia hanya mengangguk. Di lain hari ketika hampir berpapasan dengan Kawi, dia langsung mengeluarkan Hp dari kantong celananya, menunduk dan menatap layar ketika berpapasan denganku. Gemas dengan tingkahnya, aku panggil saja, "Kawi!" Sapaku, sambil melemparkan senyum. Dia hanya membalas dengan mengedikkan alisnya. What's that supposed to mean??? -_-
Hingga di suatu sore, saat itu anak-anak di kelas sedang acara di depan sekret himpro. Termasuk Kawi ada disana. Lelah diperlakukan seperti itu dengan Kawi, akhirnya aku memberanikan diri langsung bertanya padanya.
"Kawi, kenapa kamu menghindar dari aku?"
Awalnya dia mengelak. Bilang kalau dia memang seperti itu kesemua orang. Aku tau itu bohong. Dia baik ke orang lain, dia ramah ke orang lain. Ketika aku sedang bersama dengan temanku berjalan, kami berpapasan lagi. Temanku yang memanggil Kawi saat itu, respon Kawi lebih ceria -tidak sekedar mengedikkan alis.
Setelah percakapan tidak berarti -iya, gak berarti! Soalnya setiap kuajak ngobrol, dia memecah fokus dengan menyapa orang-orang yang lewat, seperti menghindari percakapan denganku. Setelah susah payah mengembalikan ke fokus topik, kesimpulan yang bisa kuambil, dia risih karena aku suka dengannya.
Padahal sejak aku tahu dia menjauh dariku, hari itu, aku sudah memutuskan untuk tidak suka dengannya. Tapi memang tidak ada proses yang instan. Aku mati-matian mengurangi rasa suka itu. Memang berhasil. Berkurang kok. Hingga yang tersisa cuma rasa ingin dihargai dan dianggap sebagai teman -seperti dulu.
Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Malah makin buruk. Malah sampai akhirnya ke percakapan seperti ini. "Dia risih karena aku menyukainya". Padahal sudah sejak lama, aku memutuskan untuk berhenti.
Komentar
Posting Komentar