Langsung ke konten utama

Tentang Kawi

Ini hanya tentang Kawi yang kutahu. Hanya sebatas pengetahuanku dan pengamatanku.

Kawi adalah anak satu-satunya. Kemungkinan besar, ia sangat disayang orang tuanya. Seperti kebanyakan sifat anak satu-satunya, dia mandiri, dia bisa mengurus semuanya sendiri, independent. Tapi jelas ada beberapa hal yang dia tidak bisa urus sendiri.

Dia terlihat jarang bekerja di dapur, terlihat canggung ketika kerjanya diperhatikan. Terutama kalau aku yang memerhatikan. Hehe.. Pernah ketika di lapang, karena aku berdiri mengantri di sebelahnya, hanya kita berdua di dapur, dia mempercepat mencuci 3 piring sekaligus. Hasilnya? Ada sabun yang sisa di belakang piring dan dia harus mencuci ulang. Hehe.. 

Dia jarang menyapu. Aku pernah melihatnya salah memegang sapu. Pas aku ingatkan, dia cuma menjawab, "biarin". Dasar bocah. Hehe..

Dia jarang bekerja. Dia harus selalu diberi komando. Inisiatifnya pun kurang.

Kalau anak-anak di kelas menganggap dia sebagai sosok yang dewasa, aku justru melihat Kawi.... seperti anak kecil yang mengintip malu-malu dari balik pintu. Dia jauh dari kata dewasa.

Dia juga jaim tingkat dewa. Jika diberi masukan oleh orang yang tidak dia akui, dia akan mengelak seakan dia sudah paham atau sudah tahu. Tapi setelah itu dia terlihat kikuk.

Jika baru kenal dengan orang baru, dia akan mencoba terlihat cool. Terlihat lebih kekanakan dengan yang sudah ia anggap dekat. Mengeluarkan sisi lainnya di depan orang yang tidak ia suka.

Dia baik. Dia sering berbicara dengan nada suara yang lebih halus atau ramah ke teman-temannya. Dia sering menolong anak-anak di kelas yang minta di ajarin. Dia menghindari sifat senioritas, makanya adik tingkat banyak yang akrab dan menyukai karakternya.

Dia berbakat menjadi penguntit. Suka mengikuti, mengamati, dan tindakan-tindakan ilegal lainnya yang lazim dilakukan orang yang sedang naksir lawan jenis.

Suka bohong, tidak berani jujur. Baginya sah membohongi orang yang dia tidak suka untuk keuntungan dirinya sendiri. Misalnya, ke aku. 

Tapi anak-anak di kelas, selalu mengelu-elukan dirinya, entah sebagai mahasiswa terpintar, terajin, terbaik, atau tersuamiable.

Entah kenapa hanya aku yang selalu diperlihatkan sisi lain dari itu semua.

Ketika ia sebenarnya mengurangi jam tidurnya untuk mengerjakan tugas, dia tidak banyak tidur di kelas untuk menangkap materi kuliah, dia berusaha membagi waktunya untuk semua kegiatan organisasi yang dia ikuti dengan waktu mengerjakan tugas kelompok, dia menahan dirinya untuk sekedar ikut hang out atau makan di tempat-tempat hits agar bisa menghemat pengeluarannya, dia pernah berpikir untuk tidak bersekolah, dia dulu ansos makanya mungkin orang-orang segan padanya.

Dia yang tega block akun medsos, dia yang gampang GR, dia yang melankolis akut, dia yang kadang suka cari perhatian, suka ngeliatin diem-diem orang yang dia suka, menghindari orang yang dia tidak suka dengan ekstrem, over self convidence, dia yang tidak pernah mengakui aku, dia yang sekarang mungkin lupa dulu dia itu seperti apa.

Aku melihat semua sisi baiknya, sisi jeleknya, sisi usaha kerasnya.

Dan aku mengambil kesimpulan, iya, dia memang pintar. Iya, dia memang rajin, setidaknya dia mengumpulkan tugas tepat waktu. Tapi dia bukan anak paling baik di kelas, dia tega menyakiti bahkan tidak merasa bersalah setelah menyakiti orang yang dia tidak sukai. Dia belom memenuhi syarat suamiable, he's still a boy. Not mature yet. Dia bocah dengan sifat batu, dikombinasi over self convidence karena dampak sering dipuji-puji dan terlalu bangga dengan prestasi yang ia raih sampai men underestimate orang yang ia tidak sukai. Dia belom paham apa itu perempuan. Dia belom bisa bersikap professional. Dia bahkan tidak bisa mengendalikan sifat ke GR annya.

Kawi yang menjaga jarak dariku, dengan alasan bukan muhrim tapi dia sendiri gak bisa jaga jarak ke perempuan lain yang bukan muhrimnya. King of ngeles. Dia masih harus banyak belajar bagaimana cara menghargai orang lain. Dia harus meluruskan niat berbuat baiknya. Jika memang dia berbuat baik untuk Allah, lalu kenapa dia menyesal berbuat baik kepada diriku yang dia sangka "itu membuat aku deket-deket dengannya". Karena dia baik, orang mau deket ke dia -dimana mana emang gitu!

Tinggal hatinya aja yang jangan ke GR an. Dideketin, GR. Disapa, GR. Artis aja enggak ke GR an sampe segitunya.

Dia harus banyak-banyak memupuk keberanan. Karena dia sangat lack of courage. Kekurangan asupan keberanian membuat dia jadi sangat pengecut. Pengecut kalau aku ajak diskusi soal sikap dia/sikap aku deh -kalau dia gak mau disalahin. Pengecut karena gak mau mengakui kesalahannya. Pengecut karena cuma berani ngumbar rasa suka, tapi gak berani nyelesein masalahnya dengan orang lain. Pengecut karena beraninya ngeles di medsos, lewat chat Line.

Kesan dan pesan terakhir buat Kawi
You're a great boy. Just keep humble and cherish people around you. especially me.
I'm a human, I can feel hurt, too. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesan Awal

Selama masa Interdept, aku tidak banyak berinteraksi dengan Kawi. Hanya ala kadarnya saja. Tapi tetap memerhatikan tindak tanduknya di kelas - ya walau diisi 90% menyimak kuliah. Setelah naik kesemeter 3, aku mulai cukup sering berinteraksi dengan Kawi, apalagi kita satu kelompok di salah satu praktikum. Interaksi selama satu semester, membuatku jadi "kenal" dengan Kawi. Berikut adalah kesan yang kuperoleh selama semester 3 berinteraksi dengannya. 1. Kawi sangat rajin. Baik di kuliah mau pun hadir di rapat. 2. Rela mengerjakan 80% laporan kelompok demi "nilainya" juga. 3. Dia baik. Segan menolak. 4. Tidak suka menonjolkan dirinya. 5. Suka hal-hal berbau Jepang. 6. Pendiam. Introvert 100%, pasti! Tidak ada keraguan. 7. Kaku banget. 8. Terlalu serius. 9. Terlihat "rapuh" karena penampilannya mungkin ya. Ya, itu kesan awal. Itulah Kawi "awal" yang aku kenal. Setelah negara api menyerang, semua berubah.

Awal Pertemuan

Waktu itu semester 2. Sesuai aturan universitas tempatku belajar, di semester 2 kami masuk ke kelas Interdept. Semacam kelas untuk perkenalan sebelum masuk Departemen di tahun kedua. Hari itu, aku masuk kelas, mengamati berbagai bentuk anak yang sudah hadir di kelas, setengah jam sebelum kelas dimulai. Masih sepi. Jelas. Diantara semua anak di kelas, ada satu orang yang menarik perhatianku. Laki-laki. Berkacamat, mengenakan jaket hoodie, duduk di bangku paling depan -di pojokan. Matanya tidak lepas dari layar handphone. Dia persis seperti tokoh-tokoh "kutu buku"/nerd di komik atau pun film-film yang sering kutonton. Seperti relief 2D yang muncul di dunia nyata. Aku ingin menyapanya, tapi kelihatannya dia tertutup dan sulit didekati. Jadi ya sudah, aku pun duduk di bangku paling depan, tapi ujung yang berlawanan dengannya. Kelas mulai penuh, dosen pun masuk dan pelajaran dimulai. Sebelum memasuki, dosen kami ini, dia bertanya, "Di kelas ini yang kemarin dapat IP 4, ...

Konflik Berdarah Dimulai

Judul postnya lebay ya. Hehe.. Ya sesuai dengan konflik yang kualami dengan Kawi. Sangat sinetronisme dan berlarut-larut. Apa yang sebenarnya terjadi? Oke, ini awalnya. Disemester 5, terutangkap bahwa aku menyukai Kawi. Kawi tahu itu. Makanya dia mulai menghindar dariku dengan (sangat) ekstrem. Tentunya info ini kuperoleh dengan meminta seorang teman yang kupercaya. Aku yakin 100% Kawi akan menceritakan semuanya -sejujurnya ke temanku yang satu ini. Ya karena Kawi suka dengan temanku ini. Klasik? Yap. Segitiga api. Iya, aku memang suka dengan Kawi. Aku punya alasannya. Ini bukan semacam rasa suka "tanpa alasan" yang bullshit . Semua rasa suka ada alasannya. Terlepas apa pun itu alasannya, ya berita itu memang benar. Aku hanya tidak menyangka Kawi akan menghindariku dengan ekstrem. Kita satu kelas. Satu kepanitiaan acara besar di departemen. Satu divisi. Ketika Kawi tahu aku suka dia, dia memang menghindariku habis-habisan. Dia cuek, tidak ramah lagi, dingin ban...