Langsung ke konten utama

Tentangku

Aku lahir dari keluarga berada dengan Orang tua yang selalu memenuhi kebutuhanku.

Tapi seseorang pernah berkata, kita tidak bisa memilih akan lahir di keluarga yang mana -yang mencukupi "uang atau kasing sayang". Sesuai teoir itu, walau keluargaku bercukupan, walau banyak anak-anak seusiaku yang iri melihat kehidupanku, mereka tidak pernah tahu apa kualami sejak kecil.

Ketika aku berusia 5 tahun. Orang tuaku bertengkar. Ayahku melemparkan nasi ke wajah ibuku dan memukulinya. Aku cuma bisa menangis saat itu. Aku tidak tahu alasannya kenapa.

Ketika aku SD, SMP dan SMA. Aku sering melihat ayahku memukuli ibuku. Berantem karena hal yang tidak kupahami. Aku hanya bisa menutup telingaku dengan headset, mendengar musik-musik dengan volume kencang. Ayahku sering berkata kasar, baik kepada ibuku mau pun diriku.

Kakakku adalah laki-laki yang manja. Aku tidak bisa akrab dengannya karena aku membenci sifatnya yang suka memanfaatkan uang ayah mau pun ibuku. Itu memang haknya sebagai anak, tetapi harusnya dia sadar dia sudah cukup dewasa untuk berhenti meminta dari orang tua!

Hadiah ulang tahunku yang ke - 20, ketika aku pulang ke rumah, aku melihat ayahku dan ibuku berkelahi lagi. Ayahku mati-matian merebut hp milik ibuku. Dia mengambil pisau, ingin membunuh ibuku. Aku langsung menghadang, melindungi ibuku. Aku juga terkena pukulannya. Aku hanya bisa menjerit saat itu, memintanya berhenti.

Ketika keadaan sudah agak tenang, ibuku ke kamar belakang, lalu ayahku mengajak berbicara di dapur. Ayahku memberitahu bahwa selama ini ibuku selingkuh. Selama ini -yaitu sejak aku SD! Ayahku bahkan ingin ibuku mati ditangannya. Saat itu hatiku hancur.

Keluarga macam apa ini?

Kenapa aku dilahirkan disini?

Kenapa diantara banyaknya anak, aku harus menjadi salah satu yang lahir di keluarga seperti ini?

Setelah berbicara dengan ayahku, aku mendatangi ibuku. Memintanya berbicara. Pertama ibuku mengelak berselingkuh, lalu ia perlahan-lahan bertanya hal-hal aneh seperti, "kalau sudah sayang bagaimana?" Saat itu kepercayaanku ikut hancur.

Kakakku pun sudah lepas tangan dengan masalah orang tuaku. Kata kakakku, mereka sudah seperti itu bahkan sejak aku belum lahir.

Ketika aku harus kembali merantau, aku enggan meninggalkan rumah. Aku khawatir ayahku akan menyakiti ibuku lagi. Aku khawatir ibuku akan berani berselingkuh lagi.

Aku sadar sejak kecil aku kekurangan kasih sayang. Ayah dan ibuku sibuk bekerja, aku sering dirumah sendiri. Aku pun tenggelam dengan kesibukanku ketika SMP dan SMA. Aku tidak benar-benar kenal mereka. Begitu pun mereka, tidak mengenalku seutuhnya. Kekurangan kasih sayang orang tua, teman yang seperti dua sisi mata koin. Aku selalu berdiri sendiri.

Entah sudah berapa kali aku berpikir untuk bunuh diri. Kalau tidak ada agama yang kuyakini, aku pasti sudah memilih mati dari dulu. Ada banyak cara mati yang tidak menyiksa. Tapi aku yakin siksa neraka jauh lebih menyakitkan jika aku menyerah seperti itu.

Ketika aku pikir aku bisa mendapatkan kasih sayang dengan menyukai orang lain, ternyata aku salah. Aku justru makin tersiksa.

Aku memang tidak berbakat disayangi atau disukai orang. Aku juga tidak bisa menyelamatkan keluargaku yang sekarang. Sudah terlambat.

Tapi, aku bisa menyelamatkan masa depanku.
Aku tidak ingin berakhir seperti korban-korban Broken Home yang sudah tersesat. Aku harus membuat akhir yang berbeda.

Untukku.. untuk masa depanku..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesan Awal

Selama masa Interdept, aku tidak banyak berinteraksi dengan Kawi. Hanya ala kadarnya saja. Tapi tetap memerhatikan tindak tanduknya di kelas - ya walau diisi 90% menyimak kuliah. Setelah naik kesemeter 3, aku mulai cukup sering berinteraksi dengan Kawi, apalagi kita satu kelompok di salah satu praktikum. Interaksi selama satu semester, membuatku jadi "kenal" dengan Kawi. Berikut adalah kesan yang kuperoleh selama semester 3 berinteraksi dengannya. 1. Kawi sangat rajin. Baik di kuliah mau pun hadir di rapat. 2. Rela mengerjakan 80% laporan kelompok demi "nilainya" juga. 3. Dia baik. Segan menolak. 4. Tidak suka menonjolkan dirinya. 5. Suka hal-hal berbau Jepang. 6. Pendiam. Introvert 100%, pasti! Tidak ada keraguan. 7. Kaku banget. 8. Terlalu serius. 9. Terlihat "rapuh" karena penampilannya mungkin ya. Ya, itu kesan awal. Itulah Kawi "awal" yang aku kenal. Setelah negara api menyerang, semua berubah.

Awal Pertemuan

Waktu itu semester 2. Sesuai aturan universitas tempatku belajar, di semester 2 kami masuk ke kelas Interdept. Semacam kelas untuk perkenalan sebelum masuk Departemen di tahun kedua. Hari itu, aku masuk kelas, mengamati berbagai bentuk anak yang sudah hadir di kelas, setengah jam sebelum kelas dimulai. Masih sepi. Jelas. Diantara semua anak di kelas, ada satu orang yang menarik perhatianku. Laki-laki. Berkacamat, mengenakan jaket hoodie, duduk di bangku paling depan -di pojokan. Matanya tidak lepas dari layar handphone. Dia persis seperti tokoh-tokoh "kutu buku"/nerd di komik atau pun film-film yang sering kutonton. Seperti relief 2D yang muncul di dunia nyata. Aku ingin menyapanya, tapi kelihatannya dia tertutup dan sulit didekati. Jadi ya sudah, aku pun duduk di bangku paling depan, tapi ujung yang berlawanan dengannya. Kelas mulai penuh, dosen pun masuk dan pelajaran dimulai. Sebelum memasuki, dosen kami ini, dia bertanya, "Di kelas ini yang kemarin dapat IP 4, ...

Konflik Berdarah Dimulai

Judul postnya lebay ya. Hehe.. Ya sesuai dengan konflik yang kualami dengan Kawi. Sangat sinetronisme dan berlarut-larut. Apa yang sebenarnya terjadi? Oke, ini awalnya. Disemester 5, terutangkap bahwa aku menyukai Kawi. Kawi tahu itu. Makanya dia mulai menghindar dariku dengan (sangat) ekstrem. Tentunya info ini kuperoleh dengan meminta seorang teman yang kupercaya. Aku yakin 100% Kawi akan menceritakan semuanya -sejujurnya ke temanku yang satu ini. Ya karena Kawi suka dengan temanku ini. Klasik? Yap. Segitiga api. Iya, aku memang suka dengan Kawi. Aku punya alasannya. Ini bukan semacam rasa suka "tanpa alasan" yang bullshit . Semua rasa suka ada alasannya. Terlepas apa pun itu alasannya, ya berita itu memang benar. Aku hanya tidak menyangka Kawi akan menghindariku dengan ekstrem. Kita satu kelas. Satu kepanitiaan acara besar di departemen. Satu divisi. Ketika Kawi tahu aku suka dia, dia memang menghindariku habis-habisan. Dia cuek, tidak ramah lagi, dingin ban...